img20161124131520
Coklat Wawomuda. Tak perlu gula

Betul sudah apa yang orang bilang, kenyataan seringkali tidak sesuai dengan rencana. Maksud hati perpanjang SIM di Polres Ngada, apa daya prasyaratnya tak terpenuhi. Bukan tak ada KTP atau pas foto, apalagi cuma sebuah map biru. Yang tidak terpenuhi adalah alamat di  KTPku. Walaupun KTP Nasional tetap saja alamatnya SIKKA dan si Polwan cantik mentah-mentah menolaku padahal si jilbab manis sudah mulai menulis namaku di daftar antri.

“Tidak bisa kaka, alamatnya harus Ngada, apalagi kalau sudah terlambat “ persis seperti  yang dikatakan si Bli Polisi di Denpasar sehari sebelum pulang kampung. Baiklah. Terima kasih saja lalu permisi. Apalagi polisi-polisi dorang mengomentari celanaku. Ada yang salah?

“Kaka kerja di Kantor” Tanya si Polwan

Tidak” jawabku cepat, sudah tahu kemana pikiranya mengembara.

Pantas. Lain kali pake celana panjang kalau masuk ke sini. Untung dari Mauponggo jauh-jauh, kalau tidak saya suruh pulang ganti”Pedas!

Telingaku banyak garam sehingga dibawa enak saja. Lombok, garam! Ulik! Sambal!

Dia tidak tahu saya nginap semalam di Sanian. Kalau dia suruh saya pulang ganti pasti saya pulang, selama saya belum tahu kalau KTPku sandunganku. 🙂

Nah di situlah rencananya harus berubah. Sudah di Bajawa, SIM tidak bisa keluar. Pulang rumah? NO WAY! The show must go on. Walaupun Labuan Bajo berada di nomor satu daftar dolan-dolan, Wawomuda akhirnya naik ke peringkat  pertama.

Sederhana saja alasan pergi ke sana, sudah terlalu lama menipu diri. Bukan karena dosa tapi hatiku tak puas. Kurang asli menjelaskan ke orang tentang Wawomuda tapi ternyata copas dari internet atau dengar si Wea yang cerita. Maka terjadilah. Setelah check out dari Hotel Sanian, langsung singgah di Warung Berlian. Nyam, urap sayur paku bunga papaya dengan aroma jeruk purut. Flores Taste. Gutte abis.

Masih tentang Sanian, sebelum lupa, itu soal internet di samping yang kamarnya bikin betah karena perfect bednya dan hot shower. Loginnya beberapa tahap.Tidak masalah buatku tapi pasti masalah besar buat para fakir wifi yang lewat di depan hotel  berharap semoga mudah menebak passwordnya. Manajemennya benar-benar melindungi wifinya habis-habisan. Tentulah, mereka yang bayar juga…..

img20161124124442
Mereka Menuntunku Ke Jalan Yang Benar, Di Belakang Mereka, Miring Sedikit Ke kanan Tepat Di Atas Tebing. Tidak lihat kan?

Dari kota Bajawa perjalanan ke Wawomuda memakan waktu kurang lebih 30 menit dengan sepeda motor dikurangi satu kali tersesat di Mala Piga. Kekacauan ini diselamatkan oleh Jeri dan Yeri yang baru pulang dari kebun dengan sekarung pucuk labu jepang.

 

Om mau ke mana? Sepertinya dia tahu ke mana saya pergi dan cukup yakin saya telah tersesat.

Ke Wawomuda ade

Sudah lewat om. Itu di pertigaan di sana tu” timpalnya.

Yerripun menuntuku kembali ke petigaan yang sebelumnya kusangka pertigaan biasa. Tidak mudah dituntun karena selalu cemas yang di belakang mungkin menyeruduk. Terlalu cepat juga takut, jangan-jangan perjalanku berakhir di sini karena lutut cedera atau muka ancor mencium jalanan penuh batu.

img20161124121737
Batu-batu ini juga berkelahi dengan ban sepeda motor. Sebentar lagi hotmix, asyik…

Beberapa kali ban motorku slip sehingga perlu bagiku berpura-pura lincah mengimbangi kesan nyaris tumbang. Kasihan sepeda motor. Dia yang harus jadi sasaran sistem vestibularku demi menyelamatkan maluku. Belum lagi punggung yang minta dinyamankan tertindih tas punggung yang kurang mengerti keadaan.

Pertigaan termaksud tepat di puncak tebing. Ngeri-ngeri sedap kalau sambil beroda dua. Lecet-lecet sudah pasti kalau sepeda motor lebih memilih menyusuri tebing. Sebenarnya dari pertigaan ke tepi kawah Wawomuda kurang lebih 700 m sampai 1 km, tergantung lewat mana jalannya. Jadi bisa jalan kaki bagi yang suka olah urat betis. Tapi saat itu si Revolah yang terus kuolah sampai di kaki kawah.

 

Puas. Keinginan tidur di rumput tak tertahankan. Sabar, selfi dulu. Cret, cret. Selesai. Kulitku lebih cakep difoto selfi, hitamnya berkurang. Hebatnya si OP** sangat mengerti kalau saya pelancong jomblo. Tinggal selip batang sentuh itu di antara rumput-rumput, pasang timer di mode kamera, beberapa detik kemudian jadilah, seseorang seperti sedang memotretku.

img20161124132550
Sesuatu yang sakral agak terasa. Seperti tanda pembatas. Kalau kamu?
img20161124131429
Ingin berguling tapi malu
img20161124131657
Kecil-kecil sudah mekar

Saat paling berkesan dimulai. Jantung bertalu-talu. Tarik napas dalam, menyerap semua kebeningan tetumbuhan,pasrah saat  sesekali aroma belerang ikut menyusup. Ingin rasanya berlari dan berguling di rerumputan tanpa kulit kedua tapi aku malu pada kicau burung yang riuh di ranting kayu putih. Hamparan rumput nan luas dan lembah hijau di sampingku hanya memperjelas saja bahwa aku sendiri, bebas di tengah alam penuh misteri.

Pukul 13.00 waktu Indonesia Tengah. Matahari tidak sedang ganas, takluk pada awan yang menggantung. Hanya cukup untuk memberi tanda, “aku penguasa siang”. Semua di sekitarku memang terang benderang. Jadi cukup membantu OP**ku melaksanakan tugasnya mengabadikan video pendek berdurasi 4 menit dari tempatku berdiri sampai ke puncak kawah Wawomuda. Cepat sekali? Ya, karena aku kuat mendaki 🙂

Jangan salah sangka. Wawomuda lebih sebagai bukit super landai bagiku. Tidak terlalu cakap bagiku mengukur tingkat kemiringannya tapi kalau fisik sangat bugar, lari-lari ke tepi kawah bukan masalah. Yang jadi masalah cuma kalau tunjuk jago dari kaki bukit lalu lari ke atas dan lupa bahwa tepi kawah tidak ada pagar pembatas. Hanya Tuhan yang tahu sudah itu.

Indah kabar dari rupa. Indah rupa dari kabar. Tergantung khan? Betul sekali.

Warna-warni Wawomuda mengecewakan harapanku tapi tidak mengecewakan hatiku.Walau alam tidak mengecat dasar kawah dengan warna yang dikabarkan namun warna coklat yang dilaburkan sangat memesona.

No Picture, Hoax!

Jangan marah dulu, OP**ku cuma smartphone, bukan Smartcamera. Tidak sanggup mengejawantahkan mataku dalam gambar kualitas melangit. Jadi ya, begitulah 🙂 Namun mata keduaku cukup sanggup merekam tumbuh-tumbuhan dan landscape yang memang sangat kusukai. Wawomuda menyajikan semuanya dengan pas sebagaimana Yang Kuasa membentuk Wawomuda itu sendiri. It’s Lovely karena Awesome punya temanku

img20161124122603
Belum tahu kalau saya menghitamkan air di cangkirmu. Tangkis sudah!

Nikmati Wawomuda sudah selesai. Satu jam saja. Saatnya pulang karena ada rintik yang terhempas di dahiku. Jalan yang sama kulalui cuma dengan cara nungging. Si Revo sudah tahu apa yang akan dilaluinya namun tidak berdaya menolak. Pasrah melewati punggung bukit, kebun-kebun kopi yang subur, tandan pisang yang menjuntai-juntai, asap dari ladang-ladang dan orang-orang yang tersenyum dari kuping ke kuping. O ya, juga ada sapi-sapi. Tidak ada domba sepertinya. Beberapa ekor ayam. Ular tidak ketemu, jengkerik cuma satu.

 

Ro’i ro’i jangan terlalu toleh kiri kanan. Hujan datang. Nanti di Bajawa baru ingat-ingat lagi. Itu, awas batu. Pelan, pelan. Cepat sudah. Hujan sudah dekat. Wala, terlambat le, itu air hujan di aspal sudah lenting-lenting tu…

 

 

 

 

 

Advertisements